Tribute to SelebrASI - #2 Tahun MenginspirASI

|
Tuesday, November 1, 2016
| 4 Comments


Tak terasa usia AIMI Depok sudah memasuki tahun yang ke-2 (dua). Dan tidak terasa juga saya menjadi keluarga besar AIMI sudah setahun. 

Rasanya saya ingin flashback lagi cerita tentang menyusui hana - chan.
Cerita di bawah ini adalah pengalaman menyusui hana - chan versi lengkapnya. Mungkin sepenggal cerita ada di postingan blog saya.


***

Cerita menyusui saya yang paling membuat drama adalah ketika Hana – chan lahir. Seperti ibu muda pada umumnya menyambut kelahiran anak pertama sangatlah di tunggu – tunggu. Semua perlengkapan dari yang besar hingga pernak pernik sudah dipersiapkan jauh – jauh hari. Hingga tiba waktunya Hana – chan lahir ke dunia. Ketika Hana – chan merangkak ke dunia saya ingin memberikan IMD dan ASI terbaik, yaitu kolostrum. Akan tetapi impian saya terpaksa saya buang jauh – jauh karena begitu hana – chan lahir dia seperti mengigil kedinginan maka bidan yang membantu persalinan sayapun langsung membersihkan hana – chan dan segera dibawa keruang perawatan khusus bayi. Dari situ saya berpikir itulah awal kegagalan saya sebagai seorang ibu. Dan babak drama ASI pun dimulai.

Hana – chan di lahirkan melalui proses kelahiran normal dengan bb 3kg dan panjang 40cm. Padahal sebelumnya saya sudah di wanti – wanti oleh 3 dokter (kandungan, anak, dan syaraf) – kebetulan saya memiliki penyakit epilepsi partial kompleks - . Agar saya menjaga benar kandungan saya serta proses melahirkan saya akan didampingi oleh 3 (tiga) dokter tersebut berjaga takut saya mengalami kejang dan terjadi kejadian yang tidak diinginkan. Namun, karena satu dan lain hal ketiga dokter tersebut absen mendampingi saya dan pada akhirnya saya hanya di bantu proses persalinan oleh bidan yang bertugas. Allhamdulillah ketika proses persalinan berlangsung saya tidak mengalami kejang.

***

Sesampainya saya dirumah bersama hana – chan mungil (kebetulan saya memutuskan untuk tinggal bareng ortu). Saya stress. Stress karena ASI saya sudah tiga hari tak kunjung keluar. Berbagai macam cara pun dilakukan. Mulai dari pijat payudara yang dilakukan oleh suami sampai minum jamu – jamuan yang katanya melancarkan ASI. Namun nihil hasilnya dan mau diperes sampai gimana juga ASI yang keluar hanya setetes. Saya sedih, kesel, marah perasaan saya campur aduk – mungkin ini yang disebut sindrom baby blues. Belum lagi ditambah orangtua SUFOR garis keras, ampun – ampunan deh. Ternyata telisik boleh telisik saya mengalami stress karena sejak hana – chan lahir dan berada dirumah sakit, saya kurang istirahat karena banyak sanak saudara juga tetangga yang datang berkunjung. Jujur setelah melahirkan Hana – chan saya lelah dan letih. Begitu ingin istirahat tiba – tiba ada saja yang datang menjenguk saya, bukannya tidak mau, akan tetapi ya itu. Saya jadi tidak bisa istirahat.

Begitu seminggu berlalu berat badan hana – chan ternyata turun 5 ons. Dari situ awal perang argumen dengan orangtua pun di mulai. Bekal saya hanya beberapa buku menyusui, serta informasi yang saya dapatkan dari internet. Waktu itu saya masih gak tau kalau ada AIMI yang memberikan support kepada ibu menyusui. 

Minggu pertama, keadaan saya kurang tidur karena proses adaptasi yang menyesuaikan pola tidur hana - chan yang tengah malam malah melek. Di tambah perkembangan ASI saya yang masih sedikit – yah dengan proses panjang akhirnya payudara saya mengeluarkan ASI walaupun tidak sebanyak ibu menyusui pada umumnya. Bila ibu – ibu lain sedia breastpad, saya tidak. Ya karena sedikit dan tidak bocor. 

Pernah satu waktu sangking stressnya saya berpikir untuk “membunuh” hana – chan. SERIUS. Sangking desperatenya, putus asa-nya. Karena tidak ada yang mendukung. Mama saya menganjurkan saya untuk memberikan susu formula tanpa henti, kalimat itu setiap saat digema di telinga saya. Ditambah suami yang sudah terlalu sibuk dengan kegiatan kantornya sehingga saya berpikir 

“Elu suami macam apa, Cuma bisa bikin tapi ngerawatnya malah gak mau berdua”.

Pernah lagi saya berpikir bahwa saya ingin kabur aja kemudian saya renungkan kembali kalau saya pergi meninggalkan semuanya hana – chan bagaimana? Biar bagaimana pun hana – chan anak saya, darah daging saya, saya yang mengandungnya selama 9 (sembilan) bulan penuh resiko. Mau saya tinggalkan begitu saja?

Dan sayapun mengurungkan niat untuk kabur ala anak abege yang kabur dari rumah.

Minggu kedua, Hana – chan nangis terus setiap malam, dan berat badan dia stuck. Gak naik gak turun. Lagi – lagi saya kena omel. Lagi – lagi mama menjejalkan saya dengan produk – produk susu formula yang menurut dia bagus. Sebenernya mama di bayar berapa sih sama produsen susu? Sampai sebegitunya ngiklan di depan anaknya sendiri pikir saya.

Dan akhirnya sampai satu waktu. Saya mendapati kondisi badan saya yang sedang drop. Sedangkan saat itu dirumah lagi tidak ada ART dan dengan egoisnya orangtua saya memilih pergi karena ada keperluan katanya. Tinggallah saya dan hana – chan di rumah. Kebetulan suami juga lagi kerja dan tidak bisa di ganggu. Dan ujung-ujungnya saya gangguin sih.

Kondisi waktu itu saya sedang demam dan saya merasa 'aura' epilepsi saya akan kambuh. Sebagai penderita epilepsi tanda – tanda datangnya satu kondisi yang membuat saya tidak sadarkan diri selalu ada. Saya tidak konsumsi obat anti epilepik lagi semenjak hana – chan di dalam kandungan. Saya hanya minum obat – obatan herbal. Selama ini saya menjaga agar tubuh saya selalu dalam kendali dengan cara selalu berpikir positif. Tapi semenjak hana – chan lahir kondisi emosi saya labil banget dan terkadang tidak bisa berpikir positif lagi.

Dan hal yang paling buruk pun terjadi. Saya mengalami kejang, tidak sadarkan diri, tidak bisa membedakan mana nyata dan tidak sedangkan hana – chan nangis, minta nyusu sepertinya. Saya mau nangis, mau teriak minta tolong, tapi tubuh saya tidak bisa saya kendalikan. Pada akhirnya saya ditemukan oleh ART saya yang kebetulan saja baru tiba di rumah dan pada saat saya mengalami kejang, ART saya pun bingung harus bagaimana.

Sementara yang dia lakukan hanya menggendong hana – chan agar tangisannya reda. Sisanya saya mengalami kejang berulang kemudian reda dengan sendiri. Begitu kondisi saya sudah pulih total saya langsung menghubungi suami untuk lekas pulang sesegera mungkin tanpa alasan. 

Sebagai seorang ibu menyusui yang mempunyai riwayat epilepsi partial kompleks kondisi di luar kendali merupakan suatu tantangan tersendiri bagi saya. Terlebih lingkungan saya tidak mendukung. Padahal yang saya butuhkan bukan ceramah dan omelan saya harus bagaimana dan harus konsumsi apa. Saya hanya membutuhkan dukungan moril dari mereka untuk membuat pikiran saya tenang dan biarkan saya memberikan ASI kepada hana -chan tanpa embel – embel tambahan formula.

Bulan pertama banyak kejadian yang membuat saya pengen mati atau bahkan sudah berusaha bunuh diri namun gagal, dan ada keinginan untuk menghilang saja. "Apasih nih bayi, bikin repot aja". Dan segala macam pikiran buruk.

Sampai saya mengetahui adanya AIMI - Asosiasi Ibu Menyusui yang mendukung ibu muda dan ibu – ibu lainnya untuk menyusui secara keras kepala. Dari situ saya mulai mencari tahu bagaimana bisa mengakses mereka. Mengikuti seminar yang mereka adakan. Dahulu AIMI depok belum ada. Yang terdekat dari tempat tinggal saya adalah AIMI ranting Bogor. Saya berusaha untuk bisa menghadiri seminar yang mereka adakan bersama kedua orangtua saya. 

IYES! Saya dengan kekeuhnya mengajak mama dan ayah untuk mengikuti seminar yang diadakan AIMI Bogor. Awal – awal mereka menolak keras dengan seribu alasan tapi toh mereka pada akhirnya ikutan juga. 


Alhamdulillah semenjak mengikuti seminar tersebut, pikiran mereka sedikit terbuka. Walaupun sempat kelepasan untuk memberikan susu formula karena saya yang masih dalam kondisi baby blues akut. Lambat laun pikiran saya sedikit demi sedikit mulai bisa tenang, begitu pikiran saya tenang ternyata ASI saya langsung lancar dan deres. Ada perasaan senang juga sih bisa ikutan seperti ibu - ibu lainnya menggunakan breastpad. Saya pun melakukan komunikasi dengan suami secara intens dan akhirnya suami bisa mengerti kondisi saya dan mendukung sepenuhnya. 

Semenjak itu saya memiliki keinginan untuk bergabung bersama AIMI dan berkeinginan membantu ibu – ibu muda seperti saya yang membutuhkan pertolongan moril dan kemudian berkata 

“ your not alone”

Tepatnya dua tahun lalu, AIMI ranting Depok diresmikan. Dengan modal nekad saya mencoba mengajukan diri sebagai salah satu pengurus AIMI ranting Depok dan alhamdulillah di terima hingga kini. Tidak sampai disitu, saya juga ingin ibu – ibu yang ada di lingkungan sekitar saya melek ASI. Dan Hal pertama yang saya lakukan adalah membentuk POSYANDU. Melalui posyandu yang saya dan ibu – ibu di lingkungan sini dirikan. Berharap kedepannya kita bisa memberikan edukasi menyusui bagi yang membutuhkan. Serta memberikan dukungan penuh kepada ibu menyusui dengan segala bentuk permasalahan yang ada



ASI memang pilihan, tetapi ASI adalah pemberian dari sang pencipta. Begitu pikiran positif terbentuk insyaallah ASI pun lancar. Tidak ada kata menyerah untuk pemberian ASI. Siapkan mental dan minta dukungan penuh dari lingkungan terdekat jangan malu untuk protes bila lingkungan tidak mendukung. Karena ASI sayang untuk di sia-siakan. Anak pemberian Tuhan, ASI pun dari Tuhan. Sudah sewajarnya kita memberikan yang terbaik untuk titipan Tuhan.

ASI YESS!!!
AIMI Ultah ke 1 Tahun 


Terima kasih untuk AIMI DEPOK yang sudah memberikan dukungan penuh kepada saya dan juga ibu menyusui yang lainnya. Selalu memberikan InspirASI dan MengedukASI banyak keluarga mengenai pentingnya ASI ya!

Terima kasih sudah menjadikan saya bagian dari keluar besar AIMI DEPOK


Selamat Ulang Tahun yang ke 2 Untuk AIMI DEPOK
Semangattt!!!~~




***

Ibu - ibu, praktisi kesehatan dan juga penggiat ASI jangan lupa ya ikut serta dalam HUT ke -2 AIMIDepok pada bulan Desember 2016 nanti. Ikuti terus Update Informasinya mengenai Event HUT AIMI ke - 2 di Sosmed AIMI DEPOK.


Psstt... event ini ada SKP-nya loh! 





Kami membuka kesempatan bagi para pemilik usaha yang ingin mendukung kegiatan kami dan memiliki visi sejalan dengan AIMI Depok untuk berpartisipasi dalam acara Seminar LaktASI sebaga Sponsor.

Info lebih lanjut mengenai pilihan Sponsorship dapat menghubungi Rahma : 0811 1744 111

4 comments on "Tribute to SelebrASI - #2 Tahun MenginspirASI"
  1. Subhanallah penuh perjuangan ya apalagi kalau epilepsi kambuh. Alhamdulillah ada AIMI, komunitas yang saling menyemangati. Acaranya kapan ya yang di Depok? Aku ingin datang nih mba.

    ReplyDelete
  2. selamat ulang tahun aimi depok
    aku datang insyaallah selebrasi yang di scientia kali ada garage sale :v wkwkwk
    semoga bisa ngasi lagi kali ini. aamiin

    ReplyDelete
  3. Menginspirasi banget mbak. Akupun jadi semangat meng-asi

    ReplyDelete
  4. emang perjuangan seorang ibu dlm melahirkan sekaligus merwat anak patut di acungi dua jempol

    ReplyDelete

Mohon maaf komentar di moderasi ya, biar gak ada yang nyampah ^^